Connect with us

Kilas Balik

Piala Dunia 2002: Ajang Sepakbola Paling Kontroversial

Gelaran Piala Dunia di Korsel dan Jepang dikenang sebagai panggung terakhir Ronaldinho, Rivaldo dan Ronaldo. Namun, kacaunya perilaku wasit membuatnya juga terus dikenang buruk di memori pecinta bola.

Gelaran Piala Dunia 2002 sepatutnya dikenang sebagai momen bersinarnya timnas-timnas underdog. Senegal, sejak lama dikenal sebagai timnas gurem, menyingkirkan juara bertahan Perancis di fase grup. Senegal lantas mengirim Swedia pulang lebih awal di babak 16 besar. Turki maju sampai semifinal sebelum dikalahkan tipis oleh Brazil dengan skor tipis 0-1.

Dan yang paling mencengangkan: Korea Selatan, salah satu tuan rumah selain Jepang, mencatatkan rekor terbaik mereka sepanjang sejarah Piala Dunia. Timnas Negeri Ginseng melenggang hingga semifinal dengan menekuk dua nama besar: Spanyol dan Italia. Final Piala Dunia 2002 memang tak menawarkan kejutan berarti: Jerman bertemu Seleção—julukan timnas Brazil. Justru berkat serangkaian kontroversi di babak menjelang finallah yang bikin gelaran Piala Dunia 2002 sebagai salah satu kompetisi sepakbola paling kontroversial.

Di lain pihak, bintang utama turnamen kala itu adalah tridente Brazil, Ronaldinho, Rivaldo dan Ronaldo. Ketiganya terus menari, menunjukkan skill tingkat dewa mereka sampai ke babak pamungkas. Tetap saja, ketika ditanya momen apa yang masih diingat dari Piala Dunia 2002, mayoritas orang akan melupakan delapan gol yang dilesakkan Ronaldo. Hanya sedikit juga yang masih ingat lob legendaris Ronaldinho yang bikin David Seaman keki. Sebaliknya, yang dikenang oleh banyak orang dari Piala Dunia 2002 adalah beragam kontroversi yang menyelimutinya, mulai dari politik kotor FIFA, pengenalan aturan golden goal dan wasit yang berat sebelah.

Salah satu coreng Piala Dunia 2002 bahkan terjadi enam tahun sebelum kick off pertandingan pembuka dilakukan, ketika Jepang dan Korea Selatan terpilih sebagai tuan rumah bersama. Sebelumnya, kedua negara harus berjibaku untuk terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia. Ini adalah kali pertama penyelenggaraan Piala Dunia dipercayakan pada dunia negara yang bertetangga lantaran baik Jepang maupun Korea Selatan tak memiliki infrastruktur yang memadai untuk menjadi tuan rumah tunggal.

Fakta bahwa sebelum mengajukan diri sebagai tuan rumah, timnas Jepang tak pernah lolos kualifikasi Piala Dunia sendiri jadi sorotan publik sepakbola saat itu. Hal lain yang bikin terpilihnya kedua negara sebagai penyelenggara Piala Dunia adalah permasalahan logistik yang dihadapi para fan sepakbola yang datang untuk menonton pertandingan secara langsung.

Para suporter harus menyebrangi lautan mengejar pertandingan yang mereka incar. Belum lagi, perbedaan waktu antara benua Asia dan Eropa ada PR tersendiri bagi pecandu sepakbola di Eropa. Mereka harus menonton pertandingan di pagi hari. Imbasnya, jam kerja jutaan orang di Eropa acak-acakan. Sebagai gelaran Piala Dunia pertama di Asia, Piala Dunia 2002 dianggap sebagai permainan politik FIFA yang mengorbankan kenyamanan supporter sepakbola. Puncaknya, muncul pertanyaan besar tentang kultur sepakbola Korea Selatan dan Jepang—pertanyaan sama banyak muncul seiring terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Tentu saja kita bisa menuding komentar-komentar miring hanyalah bentuk arogansi publik sepakbola Eropa. Lagipula, FIFA waktu itu tak berpikir bakal menganulir rencananya mengeksploitasi pasar Asia yang besar cuma lantaran gerutuan rezim sepakbola lama. Malah, pada akhirnya, publik dibuat tercengang dengan kultru sepakbola Korea Selatan yang menarik, meski di Jepang sambutan akan gelaran terbesar sepakbola ini terasa suam-suam kuku belaka setelah Jepang menyerah pada Turkki di babak 16 besar.

Di bawah panduan Guus Hiddink, timnas Negeri Ginseng itu jauh mengungguli rekannya sesama penyelenggara Piala Dunia 2002 dan mengorbankan badai Piala Dunia dari Gwangju hingga Ulsan, Daegu hingga Seoul. Penggunaan metafora “badai” sangat populer dalam pemberitaan Piala Dunia waktu itu lantaran digelar di musim angin moonsoon—ada kekhawatiran akan terjadi badai yang tak sedikitpun terbukti—dan juga karena badai kritik yang diterima karena catatan kesuksesan timnas Korea Selatan di ajang itu.

Semasa fase grup, timnas Setan Merah melenggang tanpa satu pun insiden berarti. Korea Selatan menang dengan menyakinkan atas Portugal dan Polandia dan bermain imbang dengan skor 1-1 melawan Amerika Serikat. Memang, ada sedikit kontroversi dalam partai melawan Portugal. Dua anggota skuad Portugal, Beto dan Joao Pinto diusir ke luar lapangan. Namun, saat itu, Korea Selatan memang pantas keluar sebagai kampiun dan menjadi pemuncak grup. Yang kerap dianggap sebagai pertandingan kontroversial adalah pertemuan Korea Selatan melawan Italia di babak 16 besar, yang dimenangkan Korea Selatan dengan skor 2-1.

Ahn Jung-Hwan menyundul bola melewati Gianluigi Buffon tiga menit sebelum perpanjangan waktu kedua berakhir. Performa tim azzurri sepanjang Piala Dunia 2002 sebenarnya tak bagus-bagus amat, kalau tak bisa dibilang busuk meski diperkuat nama besar seperti Maldini, Cannavaro, Totti, Nesta, Inzaghi, Materazzi, dan Vieri. Namun tetap cara mereka kalah dari timnas Negeri Ginseng yang menorehkan luka mendalam di hati publik sepakbola Italia.

FIFA

Continue Reading
Advertisement
Comments

Kilas Balik

PIALA DUNIA 2014: Jerman Juara Dunia dan Kegagalan sang Tuan Rumah…

Gelaran Piala Dunia 2014 memainkan Total 63 pertandingan sudah dimainkan sejak laga pembukaan sampai perebutan juara ketiga. Dua tim terkuat akan berjumpa di final, menyisihkan 30 tim lainnya yang sudah lebih dulu gugur. Laga pamungkas Jerman kontra Argentina jadi akhir cerita di Brasil.

Pesta akbar sepak bola tahun ini adalah Piala Dunia yang ke-20 sejak pertama kali bergulir pada 1930 silam. Ini adalah kedua kalinya Brasil menyelenggarakan turnamen ini setelah terakhir kali pada 1950. Brasil menjadi negara kelima yang pernah menyelenggarai Piala Dunia FIFA lebih dari satu kali, setelah Meksiko, Italia, Prancis, dan Jerman.

Turnamen ini juga merupakan Piala Dunia FIFA pertama yang diselenggarakan di Amerika Selatan sejak Argentina 1978. Sebelumnya, tidak ada negara Amerika Selatan yang menyelenggarakan Piala Dunia FIFA lebih dari satu kali.

Ajang ini semakin berwarna dengan diperkenalkannya aturan baru berupa teknologi garis gawang dan vanishing spray. Untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia, para petugas dibantu oleh kedua teknologi tersebut.

Pada tahun 2012, badan FIFA yang mengatur tentang peraturan pertandingan (IFAB) akhirnya menyetujui penggunaan teknologi garis gawang. Ini adalah kompetisi FIFA keempat untuk menggunakan teknologi tersebut setelah melakukan percobaan dan sukses pada Piala Eropa 2012, Piala Dunia Antarklub 2013, dan Piala Konfederasi 2013.

Selain itu, IFAB juga menyetujui penggunaan vanishing spray yang digunakan wasit untuk memberi garis pembatas dalam tendangan bebas. Semprotan berbasis air ini menjaga pemain bertahan agar tidak melewati batas yang ditentukan wasit ketika eksekutor sedang melakukan tendangan bebas. Setelah itu, pembatas ini pun akan menghilang dalam satu menit setelah digunakan tanpa merusak rumput lapangan.

Banyak sekali kejutan yang terjadi sepanjang bergelarnya Piala Dunia kali ini. Di antaranya tersingkirnya negara-negara kuat seperti Italia, Spanyol, Portugal, dan Inggris di pertandingan fase grup. Di sisi lain, lahir tim-tim non-unggulan semisal Kosta Rika dan Aljazair.

Dari sisi produktivitas, banyak sekali gol yang tercipta di perhelatan kali ini. Berdasarkan laman resmi FIFA, hingga satu pertandingan yang tersisa, rata-rata gol di Piala Dunia 2014 mencapai 2,7 gol per laga atau naik dari 2010 lalu yang hanya berkisar 2,3 gol per laga.

Penyelenggaraan Piala Dunia kali ini juga tercatat memakan jumlah biaya tertinggi sepanjang sejarah ajang empat tahunan tersebut, yaitu sebesar 16 miliar dolar AS atau jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp 185,4 triliun.

Jika melihat segi usia, salah satu tim finalis, Argentina, merupakan tim dengan rata-rata pemain tertua, yakni 28,4 tahun. Sementara itu, Ghana menjadi tim termuda dengan rata-rata 24,9 tahun.

Pemain termuda di ajang ini adalah Fabrice Olinga dari Kamerun, dia genap 18 tahun pada 12 Mei lalu. Sedangkan, Kolombia memiliki pemain tertua, yakni kiper cadangan Faryd Mondragon yang berusia 43 tahun. Mondragon mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang Roger Milla pada Piala Dunia 1994. Saat itu, Milla mewakili Kamerun dalam usia 42 tahun.

Uruguay, Bosnia, Pantai Gading, dan Ghana adalah tim yang pemainnya paling banyak bermain di klub-klub luar negeri. Sedangkan, Rusia memanggil semua pemain yang berlaga di klub dalam negeri.

Bosnia merupakan tim yang pemainnya paling sering memperkuat tim nasional, yaitu rata-rata 60 pertandingan, dan yang terendah adalah timnas Aljazair dengan hanya 15,1 kali.

Beradasarkan data yang dihitung ING Bank, Spanyol menjadi tim paling mahal di Piala Dunia 2014. Juara Piala Dunia 2010 itu tercatat memiliki skuad dengan total harga 675 juta euro atau setara dengan Rp 10,87 triliun. Namun sayang, hal tersebut tidak diikuti oleh prestasi tim Matador yang gagal melaju dari fase grup.

Perbandingan antara Spanyol dan tim yang nilai jualnya paling rendah, Honduras, sangat luar biasa jauhnya. Total nilai skuad Honduras adalah 31,1 juta dolar AS (Rp 360 miliar). Ini lebih rendah dari rata-rata nilai jual masing-masing pemain timnas Spanyol.

Sejumlah rekor pun tercipta di Piala Dunia tahun ini. Penyerang Jerman Miroslav Klose resmi melewati rekor legenda Brasil, Ronaldo, sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia. Gol ke-16 Klose justru tercipta saat Jerman berhadapan dengan negara tempat kelahiran Ronaldo, yaitu Brasil.

Selain rekor yang ditorehkan Klose, pertandingan dengan Selecao di babak semi final juga memberikan luka yang mendalam bagi para fannya. Bagaimana tidak, bermain di rumah sendiri, gawang Julio Cesar diberondong tujuh kali oleh Der Panzer dengan hanya sanggup dibalas sekali melalui Oscar. Skor 7-1 pun menjadi kemenangan terbesar di semifinal sepanjang sejarah Piala Dunia.

Bukan hanya di dalam lapangan, Di luar lapangan pun tercipta berbagai rekor yang salah satunya datang dari media sosial Twitter dan Facebook. Sekitar 16,4 juta tweet dikirimkan ketika Brasil menang adu penalti melawan Chile, termasuk 388.985 tweet pada saat-saat terakhir adu penalti yang dramatis ketika pemain Chile Gonzalo Jara gagal pada tendangan penalti terakhir yang menentukan. Itu adalah momen yang paling banyak di-tweet dalam sejarah media sosial.

Begitu pun dengan Facebook. Selama ajang ini berlangsung, Facebook telah mencatat rekor interaksi sebanyak 1 miliar.

Sumber : Republika Online

Continue Reading

Kilas Balik

Piala Dunia 2010: Romantisme Sepak Bola Indah Khas Matador Spanyol

Piala Eropa 2008 adalah kebangkitan sepak bola indah. Dikomandoi Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, tim nasional Spanyol ibarat memainkan sepak bola Brasil yang lambat, tetapi indah, sekaligus memadukannya dengan kecepatan yang dituntut dalam sepak bola modern.

Pada pagelaran sebelumnya, sepak bola indah dianggap hanya nikmat ditonton, tetapi tidak menjamin kemenangan. Lihat saja ketika Yunani yang mengandalkan taktik pragmatis dengan bertumpu pada pertahanan dan serangan balik, bisa keluar sebagai juara Piala Eropa 2004.

Belum lagi, Portugal yang sempat disebut-sebut sebagai “Brasil-nya Eropa” dipaksa bertekuk lutut dua kali oleh Yunani. Sementara itu, Belanda yang pada pertengahan milenium masih memamerkan sepak bola menyerang, terus menuai kegagalan sejak terakhir kali menjuarai Piala Eropa 1988.

Sejak penyisihan grup, tanda-tanda kehebatan Spanyol sudah terlihat. Tim yang kala itu dilatih Luis Aragones tersebut mampu mencetak rekor menjadi tim kedua yang mampu memenangi semua laga dan keluar sebagai juara. Tim lain yang bisa menyamai rekor itu adalah Perancis pada Piala Eropa 1984.

Berada di Grup A, Spanyol dengan perkasa memuncaki klasemen setelah mampu melibas Rusia 4-1, Swedia 2-1, dan juara bertahan, Yunani 1-0. Lalu, mereka menundukkan Italia 4-2 lewat babak adu penalti pada perempat final dan menghajar Rusia lagi tiga gol tanpa balas di semifinal.

Sebenarnya, Spanyol bukanlah unggulan utama pada Piala Eropa 2008. Beberapa orang lebih menjagokan Portugal yang kala itu diperkuat Cristiano Ronaldo dan Luis Figo serta Belanda yang juga tampil perkasa saat menjadi juara Grup C dengan rekor tak terkalahkan.

Namun, perjalanan Portugal terhenti pada perempat final setelah dikalahkan Jerman 2-3, sementara Belanda secara mengejutkan ditekuk Rusia 1-3 lewat babak tambahan. Alhasil, meski tertatih-tatih, Jerman menjadi penantang Spanyol di final setelah mengalahkan Turki 3-2 pada semifinal.

Berlangsung di Ernst-Happel-Stadion, para pemain Spanyol sejak menit pertama sudah mengurung pertahanan Jerman. Pada menit ke-33, umpan terobosan Xavi berhasil dimanfaatkan Fernando Torres untuk mencatatkan namanya di papan skor sehingga membuat Spanyol unggul.

Skor 1-0 bertahan hingga pertandingan usai. Spanyol pun sukses menggelar pesta juara setelah terakhir kali menjuarai Piala Eropa pada 1964. Pesta itu pun semakin lengkap setelah dua pemain La Furia Roja merebut dua gelar sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik.

Striker David Villa menjadi penyerang tersubur dengan torehan empat gol, sementara Xavi dinobatkan sebagai pemain terbaik. Sejak Piala Eropa 2008, filosofi tiki-taka yang diyakini bermula dari era Aragones mulai mendunia begitu Xavi dan kawan-kawan sukses meraih trofi Piala Dunia 2010.

“Revolusi dimulai oleh Luis Aragones dan kami mengubah cara memainkan sepak bola. Kami membuktikan kepada dunia, Anda bisa menang dengan cara seperti ini. Jika kami tidak memenangi Piala Eropa (2008), kami tidak akan berhasil memenangi Piala Dunia (2010) juga,” kenang Xavi.

FIFA

Continue Reading

Kilas Balik

Piala Dunia 2006: Tandukan Zidane dan Trofi Italia

Piala Dunia 2006 digelar di Jerman. Itu merupakan edisi ke-18 turnamen empat tahunan garapan FIFA. 198 negara dari enam benua bersaing untuk bisa berlaga di Jerman. Namun hanya 31 tim ditambah tuan rumah Jerman yang berhak ikut Piala Dunia 2006.

Gelar juara Piala Dunia 2006 menjadi milik Italia. Bagi Gli Azzurri ini merupakan gelar keempat mereka sepanjang ikut Piala Dunia. Italia menjadi juara setelah mengalahkan Prancis lewat adu penalti dengan skor 5-2.

Pertandingan terpaksa dilanjutkan hingga adu penalti karena selama 120 menit kedua tim tidak mampu mencetak gol. Sedangkan tempat ketiga didapat Jerman yang menghantam Portugal 3-1.

Pada Final Piala Dunia 2006 terjadi kontroversi. Bintang Prancis Zinedine Zidane mendapat kartu merah dari wasit Horacio Elizondo di menit 110. Zidane diusir karena menanduk dada bek Italia Marco Materazzi.

Zidane melakukan aksi tidak terpuji ini karena mendapat provokasi dari Materazzi. Kartu merah ini membuat Zidane harus mengakhiri karier sepakbola profesionalnnya dengan tragis. Zidane sudah mengumumkan akan gantung sepatu pasca Piala Dunia 2006.

Kesuksesan Italia menjadi juara sungguh luar biasa karena terjadi di tengah situasi sepakbola mereka yang tidak kondusif akibat kasus pengaturan skor. Skandal yang dikenal dengan nama Calciopoli itu melibatkan klub-klub ternama Italia seperti Juventus, Fiorentina, AC Milan hingga Lazio. Beberapa pemain pilar Italia banyak yang berasal dari klub-klub tersebut.

Meski gagal juara dan mendapat kartu merah, Zidane tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik. Zidane memang menjadi aktor keberhasilan Prancis lolos ke final.

Adapun Sepatu Emas jadi milik Miroslav Klose. Pemain andalan Jerman ini mencetak total lima gol di Piala Dunia 2006.

FIFA

Continue Reading
#Grup APWDLGFGAGDPts
1UruguayUruguay33005059
2RussiaRussia32018446
3Saudi ArabiaSaudi Arabia310227-53
4MesirMesir300326-40
#Grup BPWDLGFGAGDPts
1SpanyolSpanyol31206515
2PortugalPortugal31205415
3IranIran31112204
4MarokoMaroko301224-21
#Grup CPWDLGFGAGDPts
1PrancisPrancis32103127
2DenmarkDenmark31202115
3PeruPeru31022203
4Australia301225-31
#Grup DPWDLGFGAGDPts
1KroasiaKroasia33007169
2Argentina311135-24
3NigeriaNigeria310234-13
4IslandiaIslandia301225-31
#Grup EPWDLGFGAGDPts
1BrazilBrazil32105147
2SwissSwiss31205415
3SerbiaSerbia310224-23
4Kosta RikaKosta Rika301225-31
#Grup FPWDLGFGAGDPts
1SwediaSwedia32015236
2MeksikoMeksiko320134-16
3Korea SelatanKorea Selatan31023303
4JermanJerman310224-23
#Grup GPWDLGFGAGDPts
1BelgiaBelgia33009279
2InggrisInggris32018356
3TunisiaTunisia310258-33
4PanamaPanama3003211-90
#Grup HPWDLGFGAGDPts
1KolombiaKolombia32015236
2SenegalSenegal31114404
3JepangJepang31114404
4PolandiaPolandia310225-33

Trending

16/06/2019 02:00 AM
Venezuela 0 Peru 0
16/06/2019 05:00 AM
Argentina 0 Kolombia 0
19/06/2019 04:30 AM
Bolivia 0 Peru 0
19/06/2019 07:30 AM
Brazil 0 Venezuela 0
20/06/2019 07:30 AM
Argentina 0 Paraguay 0